kualitatif
Kamis, 14 Juni 2012
terkabulnya permintaan digunung kawi
KEPERCAYAAN TERKABULNYA
PERMINTAAN DI KRAMATAN GUNUNG KAWI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gunung Kawi memang dikenal sebagai tempat untuk mencari kekayaan(pesugihan). Konon, barang siapa melakukan ritual dengan pengharapan yang tinggi maka akan terkabul permintaanya, terutama menyangkut tentang kekayaan. Mitos ini diyakini banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah merasakan "berkah" berziarah ke Gunung Kawi. Namun bagi kalangan rasionalis-positivis, hal ini merupakan isapan jempol belaka. Mitos dalam bahasa sehari-hari diartikan sebagai cerita bohong, kepalsuan, dan hal-hal yang berbau dongeng (tahayul).
Antropolog memandang mitos sebagai sesuatu yang diperlukan manusia untuk menjelaskan alam lingkungan di sekitarnya, dan juga sejarah masa lampaunya. Dalam hal ini, mitos dianggap sebagai semacam pelukisan atas kenyataan dalam bentuk yang disederhanakan sehingga dipahami oleh awam (Ruslani, 2006: 5). Namun mitos, bagi kalangan penganut strukturalisme-fungsional juga dianggap penting karena berfungsi sebagai penyedia rasa makna hidup yang membuat orang yang bersangkutan tidak menjadi sia-sia hidupnya. Perasaan bahwa hidup ini berguna dan bertujuan lebih tinggi dari pada pengalaman keseharian merupakan unsur penting dalam kebahagiaan.
Dalam hal ini para peziarah Biasanya melakukan ritual terjadi pada hari Jumat Legi (hari pemakaman Eyang Jugo) dan tanggal 12 bulan Suro (memperingati wafatnya Eyang Sujo). Ritual dilakukan dengan meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan. Di dalam bangunan makam, pengunjung tidak boleh memikirkan sesuatu yang tidak baik serta disarankan untuk mandi keramas sebelum berdoa di depan makam. Selain pesarean sebagai fokus utama tujuan para pengunjung, terdapat tempat-tempat lain yang dikunjungi karena 'dikeramatkan' dan dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk mendatangakan keberuntungan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang menyebabkan banyak orang datang ke gunung kawi?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui penyebab banyak orang datang ke gunung kawi.
1.4 Manfaat
Secara Teoritik
Secara teoritik laporan penelitian kali ini memungkinkan bisa dijadikan tolak ukur, referensi pada kajian yang memiliki kesamaan bahasan atau bahkan kajian ulang dalam rangka pembenahan atas segala bentuk kekurangan yang tereduksi dalam kajian ini, yang selanjutnya untuk diadakan penyempurnaan dengan pengkajian yang cukup komprehensif, sekaligus dalam rangka pengembangan pemikiran secara akademik.
Secara Praktis
Ketika hasil penelitian ini memiliki akurasi dan juga memiliki tingkat kebenaran yang secara rasional atau secara esensial bisa diterima oleh banyak kalangan, baik kalangan akademisi maupun masyarakat umum, maka tidaklah keliru untuk menjadikan penulisan laporan ini tidak hanya sebagai tugas kuliah atau literatur akademis saja, namun juga sebagai pengetahuan umum akan fenomena yang ada di gunung kawi, baik kepercayaan kejawennya, ritual yang dilakukan, islam kejawenya dan lain-lain.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kepercayaan
Dalam hal ini akan dikemukakan definisi atau pengertian kepercayaan menurut pendapat para ahli, antara lain:
1. Doney et al, (1998) memberikan definisi atau pengertian kepercayaan sebagai suatu yang diharapkan dari kejujuran dan prilaku kooperatif yang berdasarkan saling berbagi norma-norma dan nilai yang sama. Pezhiarah datang ke Gunung Kawi percaya karena usaha yang dilakukannya sekarang bisa lancar.
2. Rousseau et al, (1998) memberikan definisi atau pengertian kepercayaan sebagai bagian psikologis yang terdiri dari keadaan pasrah untuk menerima kekurangan berdasarkan harapan positif dari niat atau prilaku orang lain.
Dapat disimpulkan bawha kepercayaan adalah suatu bagian psikologis yang menaruh rasa positif dengan hal-hal yang ad disekitarnya baik dengan orang lain, maupun dengan situasi pada saat itu. Kepercayaan pezhiarah datang ke Gunung Kawi dikarenakan doanya terkabul.
2.2 Gunung Kawi
Gunung Kawi adalah sebuah gunung berapi di Jawa Timur, Indonesia, dekat dengan Gunung Butak, Gunung Kawi terletak di sebelah barat kota Malang yang merupakan obyek wisata yang perlu untuk dikunjungi bila kita berada di Jawa Timur karena keunikannya. Obyek wisata ini lebih tepat dijuluki sebagai “kota di pegunungan”. Di sini kita tidak akan menemukan sebuah gunung yang sepi, tetapi kita justru akan disuguhi sebuah pemandangan mirip di negeri Tiongkok zaman dulu.
Di sepanjang jalan kita akan menemui bangunan-bangunan dengan arsitektur khas Tiongkok, dimana terdapat sebuah kuil atau klenteng tempat untuk bersembahyang atau melakukan ritual khas Tionghoa. Tiap hari ratusan orang Tiongjoa, termasuk orang pribumi naik ke Gunung Kawi. Karena terkait dengan kepercayaan Jawa, maka kunjungan biasanya dikaitkan dengan hari-hari pasaran Jawa: Jum’at Legi, Senin Pahing, Syuro, dan Tahun Baru.
Namun di sisi lain, motif para pengunjung yang datang ke pesarean ini pun sangat beragam pula. Ada yang hanya sekedar berwisata, mendoakan leluhur, dan yang paling umum adalah kunjungan ziarah untuk memanjatkan doa agar keinginan lekas terkabul.
Di Gunung Kawi ini terdapat makam dua orang tokoh yang diagungkan yang dimakamkan dalam satu liang lahat, yaitu makam Eyang Djoeugo atau Kanjeng kyai Zakaria II (wafat pada tanggal 22 januari 1871) dan Eyang Suedjono atau Raden Mas Imam Seodjono (wafat pada tanggal 8 februari 1876). Mereka adalah para tokoh bangsawan yang ikut menentang penjajah di bawah kepemimpinan Pangeran Diponegoro. Perjuangannya antara tahun 1825-1830. Mbah Djoego merupakan buyut dari Susuhanan Pakubuwono I. Adapun RM Imam Soedjono buyut dari Sultan Hamengkubuwono I.
Pada tahun 1830 saat perjuangan terpecah belah oleh siasat kompeni, dan Pangeran Diponegoro tertangkap kemudian diasingkan ke Makassar, Eyang Jugo dan Eyang Sujo mengasingkan diri ke wilayah Gunung Kawi ini. Semenjak itu mereka berdua tidak lagi berjuang dengan mengangkat senjata, tetapi mengubah perjuangan melalui pendidikan. Kedua mantan bhayangkara balatentara pangeran Diponegoro ini, selain berdakwah agamaIslam dan mengajarkan ajaran moral kejawen, juga mengajarkan cara bercocok tanam, pengobatan, olah kanuragan, serta ketrampilan lain yang berguna bagi penduduk setempat. Perbuatan dan karya mereka sangat dihargai oleh penduduk di daerah tersebut, sehingga banyak masyarakat dari daerah kabupaten Malang dan Blitar datang ke padepokan mereka untuk menjadi murid atau pengikutnya.
Setelah Eyang Djoego meninggal tahun 1871, dan menyusul Eyang Suedjono tahun 1876, para murid dan pengikutnya tetap menghormatinya. Setiap tahun, para keturunan, pengikut dan juga para peziarah lain datang ke makam mereka melakukan peringatan. Setiap malam Jum’at legi, malam meninggalnya Eyang Jugo, dan juga peringatan wafatnya Eyang Sujo setiap tanggal 1 bulan Suro (Muharram), di tempat ini selalu diadakan perayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya. Upacara ini biasanya dipimpin oleh juru kunci makam yang masih merupakan para keturunan Eyang Sujo.
Gunung Kawi memang dikenal sebagai tempat untuk mencari kekayaan (pesugihan). Konon barang siapa melakukan ritual dengan rasa kepasrahan dan pengharapan yang tinggi maka akan terkabul permintaanya, terutama yang menyangkut tentang kekayaan. Mitos ini diyakin banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah merasakan “berkah” berziarah ke Gunung Kawi. Namun bagi kalangan rasionalis-positivis, hal ini merupakan isapan jempol belaka.
Biasanya lonjakan masyarakat yang melakukan ritual terjadi pada hari Jum’at Legi (hari pemakaman Eyang Djoego) dan tanggal 12 bulan Suro (memperingati wafatnya Eyang Sujo). Ritual dilakukan dengan meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan.
Di dalam bangunan makam, pengunjung tidak boleh memikirkan sesuatu yang tidak baik serta disarankan untuk mandi keramas sebelum berdoa di depan makan. Hal ini menunjukkan simbol bahwa pengunjung harus suci lahir dan batin sebelum berdoa.
Selain pesarean sebagai fokus utama tujuan para pengunjung, terdapat tempat-tempat lain yang dikunjungi karena dikeramatkan dan dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk mendatangkan keberutungan, antara lain:
a. Rumah Padepokan Eyang Sujo
Rumah padepokan ini semula dikuasakan kepada pengikut terdekat Eyang Sujo yang bernama Ki Maridun. Di tempat ini terdapat berbagai peninggalan yang dikeramatkan milik Eyang Sujo, antara lain adalah bantal dan guling yang berbahan batang pohon kelapa, serta tombak pusaka semasa perang Diponegoro.
b. Guci Kuno
Dua buah guci kuno merupakan peninggalan Eyang Jugo. Pada jaman dulu guci kuno ini dipakai untuk menyimpan air suci untuk pengobatan. Masyarakat sering menyebutnya dengan nama ‘janjam’. Mungkin ingin menganalogikan dengan air zamzam dari Padang Arafah yang memiliki aneka khasiat. Guci kuno ini sekarang diletakkan di samping kiri pesarean. Masyarakat meyakini bahwa dengan meminum air dari guci ini akan membuat seseorang menjadi awet muda.
c. Pohon Dewandaru
Di area pesarean, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan keberuntungan. Pohon ini disebut pohon Dewandaru, yang artinya pohon kesabaran. Eyang Jugo dan Eyang Sujo menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman. Untuk mendapat ‘simbol perantara kekayaan’, para peziarah menunggu dahan, buah dan daun jatuh dari pohon. Ketika ada yang jatuh, mereka langsung berebut. Untuk memanfaatkan sebagai sebuah azimat, biasanya daun itu dibungkus dengan selembar uang kemudian disimpan ke dalam dompet. Namun, untuk mendapatkan daun dan buah dewandaru diperlukan kesabaran. Hitungannya tidak hanya jam, tetapi bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran.
Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya membawa bunga sesajen, dan menyiapkan uang secara sukarela. Namun para peziarah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesajen, semakin banyak berkah yang akan didapat. Untuk masuk ke makam keramat, para peziarah bersikap seperti hendak menghadap raja, mereka berjalan dengan lutut.
Hingga dewasa ini pesarean tersebut telah banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka bukan saja berasal di daerah Malang, Surabaya, atau daerah lain yang berdekatan dengan lokasi pesarean , tetapi juga dari berbagai penjuru tanah air. Heterogenitas pengunjung seperti ini mengindikasikan bahwa sosok kedua tokoh yang diagungkan di pesarean Gunung Kawi tersebut adalah sosok kedua tokoh yang kharismatik dan populis
Namun di sisi lain, motif para pengunjung yang datang ke pesarean ini pun sangat beragam pula. Ada yang hanya sekedar berwisata, mendoakan leluhur, melakukan penelitian ilmiah, dan yang paling umum adalah kunjungan ziarah untuk memanjatkan doa agar keinginan lekas terkabul.
d. Pemandian Sumber Manggis
Pemandian Sumber Manggis merupakan sumber mata air yang pada awal Raden Mas Imam Soedjono membuat hutan dan mendirikan pedusunan yang dinamakan Wonosari, sumber ini dipergunakan untuk sarana kebutuhan kebersihan, misalnya untuk mandi dan berwudhu. Semula pemandian ini berlokasi di tengah hutan agak jauh dari padepokan Raden Mas Imam Soedjono. Nama Sumber Manggis berasal dari Raden Mas Imam Soedjono yang menanam biji manggis di atas mata air tersebut sehingga tanaman manggis tumbuh subur.
e. Pemandian Sumber Urip
Pemandian Sumber Urip terletak kurang lebih 500 meter di bawah arah timur pesarean. Mata air ini semula berada di tengah hutan yang lebat. Sumber mata air ini ditemukan oleh Raden Asim Nitiredjopada tahun 1946. Kini pemandian tersebut telah dibangun kamar-kamar dengan aliran air yang bersih. Sehingga banyak orang ingin mandi di temapat tersebut.
Banyak orang yang datang dari berbagai wilayah dan etnis termasuk salah satunya warga keturunan Cina untuk menjadi santri. Dalam perjalananya warga keturunan yang berdoa diareal makam tersebut ketika datang kesitu sudah jauh lebih baik perekonominanya. Namun sayang pandangan masyarakat kita menelannya mentah-mentah, bahwa kalau ingin kaya cukup berdoa di area itu tanpa perjuangan yang keras.
Sementara warga keturunan yang selesai berdoa dengan sungguh-sungguh langsung bekerja keras sesuai amanat yang diterima, sehingga wajar kalo bisa segera sukses dalam bidang usaha karena kesungguhan dan keuletannya. Banyak orang-orang yang percaya bahwa berdoa dimakam akan mendapatkan keberuntungan dan terkabulnya keinginan. Beberapa orang berpendapat bahwa jika seseorang berdoa di makam dengan sungguh-sungguh maka keinginannya cepat terkabulkan. Pada saat dimakam, orang yang akan berziarah kemakam tersebut harus memenuhi aturan yaitu membawa sesajen yang berisi bunga dan lembaran uang sebagai permohonan. Beberapa warga yang datang bukan hanya dari wilayah jawa, akan tetapi juga dari luar jawa. Faktor yang mempengaruhi banyak orang datang untuk berdoa dimakam gunung kawi adalah faktor ekonomi, diberikan keberuntungan, jodoh dan diberikan kesehatan. Biasanya, jika keinginan terkabul mereka akan lebih sering ke makam gunung kawi dan melakukan ritual berdoa sambil membawa sesajen lagi.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Metode penelitian adalah serangkaian hukum, aturan, dan tata cara tertentu yang diatur dan ditentukan berdasarkan kaidah ilmiah dalam menyelenggarakan suatu penelitian dalam koridor keilmuan tertentu yang hasilnya dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Menurut Denzin dan Licoln, penelitian kualitatif lebih ditujukan untuk mencapai pemahaman mendalam mengenai organisasi atau peristiwa khusus daripada mendeskripsikan bagian permukaan dari sampel besar dari sebuah populasi. Penelitian ini juga bertujuan untuk menyediakan penjelasan tersirat mengenai struktur, tatanan, dan pola yang luas yang terdapat dalam suatu kelompok partisipan. Penelitian kualitatif juga disebut etno-metodologi atau penelitian lapangan.
3.2 Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitiaan ini, peneliti menggunakan 2 teknik pengumpulan data, yaitu :
1. Wawancara
Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengmbilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka.
2. Observasi
Disamping wawancara, penelitian ini juga melakukan metode observasi. Menurut Nawawi & Martini (1991) observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistimatik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala atau gejala-gejala dalam objek penelitian.
Dalam penelitian ini observasi dibutuhkan untuk dapat memehami proses terjadinya wawancara. Observasi yang akan dilakukan adalah observasi terhadap subjek, perilaku subjek selama wawancara, interaksi subjek dengan peneliti dan hal-hal yang dianggap relevan sehingga dapat memberikan data tambahan terhadap hasil wawancara.
3.3 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang dipilih adalah desa Wonosari kecamatan Wonosari kabupaten Malang, Jawa Timur, sebagai fokus penelitian untuk mendapatkan data tentang alas an seorang dating ke Keramatan Gunung Kawi.
Lokasi penelitian yang terpilih sebagai objek kajian dalam studi karena :
1. Lokasi penelitian Gunung Kawi dikenal sebagai tempat peminta pesugihan
2. Lokasi penelitian (desa Wonosari, Gunung Kawi) karena rata-rata pengunjungnya datang untuk berziarah di makam Ayang Soedjono dan EyangDjoego yang merupakan leluhur yang dipercaya dapat membantu untuk berdoa disana dipercaya dapat mendatangkan banyak rejeki.
BAB IV
Pembahasan
4.1 Pembahasan
Makam adalah kata lain dari kuburan, yaitu tempat disemayamkannya seseorang setelah ia wafat. Jika dahulu fungsi makam digunakan untuk mendoakan orang yang telah meninggal dengan memohon mengampuni dosanya dan agar diterima disisinya. Tetapi, sekarang makam beralih fungsi menjadi sarana untuk berdoa agar terkabulnya keinginan. seperti halnya dalam observasi saya di gunung kawi.
Jadi, makam di gunung kawi sebagai sarana untuk berdoa (memohon keinginan) biasanya dalam memohon keinginan, pengunjung melakukan ritual berdoa, antara lain dengan membawa bunga dan lembaran uang sebagai sesajen dan beberapa pengunjung menggunakan kopiah sambil duduk bersimpuh dan berdoa mendoakan eyang jugo dan mbah sujo sekaligus mereka (pengunjung) memohon keinginan. menurut subyek yang saya teliti,subyek sering melakukan ritual ke gunung kawi untuk berdoa. Biasanya, tujuan pengunjung datang ke makam adalah untuk memperoleh peruntungan, jodoh dan diberikan kesehatan dan faktor ekonomi. Cara pengunjung berdoa menurut hasil pengamatan saya adalah dengan bersimpuh sambil berdoa mendoakan eyang jugo dan mbah sujo. Dan jika pengunjung mendapatkan keberhasilan dan keuntungan setelah kedatangan pengunjung ke makam hasilnya adalah terkabulnya keinginan yang mereka minta, misalnya rezekinya lancar sehingga faktor ekonominya membaik. Setelah terkabulnya keinginan, menurut subyek pengunjung akan lebih sering datang ke makam gunung kawi untuk melakukan ritual berdoa sebagaimana yang telah di lakukan sebelumnya. Hal ini dilakukan sebagai ucapan terima kasih dan ucapan syukur pengunjung dan menurut subyek hal tersebut tercapai atau terkabul karena didukung dengan usaha dan kerja keras sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Akan tetapi banyak kendala yang dihadapi pengunjung, misalnya jarak yang jauh karena tidak semua pengunjung berasal dari sekitar malang, tetapi bahkan ada yang dari luar kota dan berdesak-desakan saat di makam bahkan ada yang menyerobot barisan depan sehingga membuat kesulitan pengunjung selain itu, ramainya pengunjung sehingga dapat mengganggu ritual berdoa.
BAB V
Kesimpulan
Berdasarkan observasi yang saya lakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa macam hal yang unik di gunung kawi, salah satunya adalah berdoa di makam. Berdoa dimakam gunung kawi ini diartikan sebagai pengunjung mendoakan makam seseorang untuk mendapatkan keinginan dengan membawa sesajen yang berisi uang lembaran dan bunga-bungaan sebagai persembahan.
Banyak pengunjung yang datang dikarenakan mereka ingin permohonan mereka terkabul meskipun banyak kendala yang dihadapi saat hendak ke gunung kawi salah satunya adalah jarak jauh karena tidak semua pengunjung berasal dari warga sekitar Malang selain itu faktor kendala lain adalah ramainya pengunjung.
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa faktor yang membuat pengunjung datang ke gunung kawi adalah kelancaran ekonomi, jodoh, peruntungan dan lain sebagainya. Biasanya setelah terkabulnya keinginan, menurut subyek pengunjung akan lebih sering datang ke makam gunung kawi untuk melakukan ritual berdoa sebagaimana yang telah di lakukan sebelumnya. Hal ini dilakukan sebagai ucapan terima kasih dan ucapan syukur pengunjung dan menurut subyek hal tersebut tercapai atau terkabul karena didukung dengan usaha dan kerja keras sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
http://gunungkawi.synthasite.com/sejarah.php
https://docs.google.com/viewer?
Langganan:
Postingan (Atom)